“ora … aku ora weruh kok …” kata arun dan paimun.
silik pitit! keduanya selalu begitu kalau saya salah menyodok bola. atau, kalau bola melenceng dari perkiraan. saat bola mintip-mintip di ujung lubang, mereka juga akan mengatakan hal yang sama. sembari melihat langit-langit, atau buru-buru ambil ponsel dan bilang, “aku lagi sms …”
hahaha …
sekalinya bola masuk, itu juga karena free ball. dan mereka dengan riuh menepuki saya. asem. tekek.
nyodok bola memang salah satu aktivitas yang paling sering paimun dan saya lakukan di ujung minggu. seru juga ketambahan arun dan paimun cilik, adiknya paimun. tapi sebenernya bukan untuk nyodokkin 9 bola, melainkan untuk curhat.
tentang laki-laki dengan gembolan kelopak senja yang hangat. tentang perempuan perut tipis yang mengingkari keinginannya sendiri.
“run, kowe thok-thok men ora weruh yo … mengko tak critani wes …” kata paimun, saat saya mulai bercerita dengan wajah yang lebih serius, seperti ingin curhat. arun cuma iya-iya aja.
ah.
hingga ada kaki yang menjulur dari kejauhan. sepatunya putih. hanya kaki saja. keduanya pun ditingkahi dengan rasa penasaran yang amat sangat. kemudian mereka berdiri dengan memegang stik biliar, seolah mengantri giliran, tapi sembari mencuri pandang. dasar manuk, manuk …
“sikile apik, tapi jarene arun elek raine …”
hahahahahaha … bukankah yang penting itu rasanya?









