Archive for de britto

batal tirakatan

Posted in konco-konco, ngrasani jogja with tags , , , on August 16, 2008 by femi adi soempeno

ah, saya batal tirakatan.

awalnya, saya sudah bikin janji dengan mas eben dan mbak lina mau tirakatan bareng. “jam 10-an ya!” katanya.

inilah ritual yang tak pernah hilang: tirakatan saban malam 17 agustus. saatnya bertemu dengan tetangga kanan dan kiri. membaur, menjadikan ’satu’ sebagai warga yang tinggal di area yang sama.

tapi saya batal tirakatan. persis lima belas menit sebelum jam kencan untuk tirakatan bersama, rupanya mas eben dan mbal lina sudah duluan berangkat. oops.

jadilah arun dan saya hanya duduk-duduk di rumah, menghabiskan botol-botol bir yang tersisa. sampai … lima botol!

ah, jangan-jangan saya memang tidak niat tirakatan! :)

klasat-kleset bertiga

Posted in konco-konco with tags , on June 30, 2008 by femi adi soempeno

entah apa yang membikin kami jadi begini.

tiga orang bujang. paimun, arun, saya. sejak semalam menonton bola –final euro2008–, tidur pagi dan bangun siang, dan tetap saja bermalas-malasan. berbincang yang jorok, banyakan memfitnah dan sedikit serius. :) dan reriungan tiga lajang ini menjadi kian menarik.

kami baru beranjak saat tengah hari. tergoda untuk mengangkut beberapa perkakas dari toko sepeda. sesudahnya, ke toko perlengkapan outdoor, makan soto di klebengan, beli tiket dan pulang.

oalah gusti. paringana sabar.

ditinggal mbojo

Posted in konco-konco with tags , , on June 15, 2008 by femi adi soempeno

ada yang berbeda dari bram belakangan. doi rajin mbojo.

lagat ini sudah saya cium sejak saya menelponnya beberapa waktu silam. ditengah napas yang diburu, bram menjawab sedang berada di rumah pacarnya. ya olo … meneketehe kalau elo sudah punya pacar, bram! :)

tuturan ini dari arun, “mbojo ki minimal tekan jam 2 … lha janjian karo aku kok jebule lagi nelpon jam 2 esuk …” hahahahahaha …

tapi ini sungguh. jam 7 malam jam tangannya sudah gelisah. janji temu dengan paimun di rumah bram, eh, paimun tak kunjung datang. mulutnya iya-iya, tapi saya tahu hatinya gelisah, lebih gelisah ketimbang jam tangannya.

usai makan iga, bram pamit pulang awal. tidak pulang, tapi langsung mbojo. aih … sementara paimun, arun, paimun cilik dan saya main biliar.

tapi beberapa teman tidak tahu betapa mbojo juga bisa meminggirkan acara temu janji dengan teman-teman. telepon masuk ke ponsel paimun, menanyakan bram. bukan perempuan, tapi laki-laki yang sedang menggairahkan napsu meriung dan memotret. iya, anak-anak APC yang sudah ada di depan rumah bram lantaran janjian mau ke kaliurang bareng. sayangnya, mereka kesulitan menelpon bram. jadilah, menelpon paimun.

“lha tunggu wae nek gelem nunggu. paling bocahe baline minimal jam 2 esuk….” kata paimun sembari tergelak. olala … padahal mereka sudah janjian bakal naik ke atas bersama-sama.

jangankan mereka. bahkan arun dan paimun mencoba berkirim pesan pendek dan telepon pun tidak dijawab maupun diangkat. aih, aih, agaknya sedang in the hoy. dan bram menjadi sentral pembicaraan yang paling hangat panas malam itu.

“semalam pulang jam berapa, bram?” tanya saya. arun ada di depan saya, menjemput untuk sama-sama ke rumah bram untuk ambil motor.

“semalam aku pulang jam 11, fe…” jawabnya. arun tergelak, dengan sedikit pisuhan. “opo, lagi telepon aku ngajak nang kaliurang jam 2 kok …” protesnya.

iya, iya. sepertinya bram pulang jam 11,  cuma nunut pipis, trus mbojo meneh. :D

 

membanding-bandingkan iga bakar

Posted in konco-konco, mangan-mangan with tags , , on June 14, 2008 by femi adi soempeno

tiga minggu belakangan, saya sibuk berpetualang iga bakar.

iga bakar pertama saya coba di warung iga bakar di gejayan. saya makan sendiri. uwh. sedap sih. rasanya nyamleng banget. saya pesan iga bakar blackpepper. rasanya sedap, dengan butiran blackpepper yang digerus kasar. rasa blackpeppernya cukup nendang.

iga bakar kedua saya cicip di cow mad di belakang kanisius. saya makan dengan arun. tapi saya terlihat cacat disini. dua lemon tea saya tenggak habis dari dua gelas besar! duh, aib nih di depan arun. saya makan iga bakar pedas. awalnya tidak pedas. warna merah yang melumuri iga nyatanya membikin saya dan arun sepakat, “enggak pedes ya, ini cuma gertak merah sambal saja …” tapi kesepakatan ini harus buru-buru kami koreksi. “duh, pedes … pedesnya tertinggal!” hahaha …

iga bakar ketiga saya coba di iga bakar sapi bali di jalan kaliurang. saya makan rame-rame dengan manuk-manuk de britto itu. arun, bram, paimun dan paimun kecil. iga bakar ini pedas, kalau pesan iga bakar kecap itu manis. pilihannya jatuh pada iga bakar. rasanya cukup enak dengan tingkat kepedasan sedang. rasanya malah agak manis dan tidak ada acara kepedesan seperti di cow mad. kali ini saya dan arun kembali bersepakat, “sama-sama pedas, tapi nenadang cow mad ya dibanding sapi bali ini …”

dan juaranya adalah … cow mad!

sedap ah.

 

menang biliar

Posted in konco-konco with tags , , on June 14, 2008 by femi adi soempeno

“ora … aku ora weruh kok …” kata arun dan paimun.

silik pitit! keduanya selalu begitu kalau saya salah menyodok bola. atau, kalau bola melenceng dari perkiraan. saat bola mintip-mintip di ujung lubang, mereka juga akan mengatakan hal yang sama. sembari melihat langit-langit, atau buru-buru ambil ponsel dan bilang, “aku lagi sms …”

hahaha …

sekalinya bola masuk, itu juga karena free ball. dan mereka dengan riuh menepuki saya. asem. tekek.

nyodok bola memang salah satu aktivitas yang paling sering paimun dan saya lakukan di ujung minggu. seru juga ketambahan arun dan paimun cilik, adiknya paimun. tapi sebenernya bukan untuk nyodokkin 9 bola, melainkan untuk curhat.

tentang laki-laki dengan gembolan kelopak senja yang hangat. tentang perempuan perut tipis yang mengingkari keinginannya sendiri.

“run, kowe thok-thok men ora weruh yo … mengko tak critani wes …” kata paimun, saat saya mulai bercerita dengan wajah yang lebih serius, seperti ingin curhat. arun cuma iya-iya aja.

ah.

hingga ada kaki yang menjulur dari kejauhan. sepatunya putih. hanya kaki saja. keduanya pun ditingkahi dengan rasa penasaran yang amat sangat. kemudian mereka berdiri dengan memegang stik biliar, seolah mengantri giliran, tapi sembari mencuri pandang. dasar manuk, manuk …

“sikile apik, tapi jarene arun elek raine …”

hahahahahaha … bukankah yang penting itu rasanya?