tiga minggu belakangan, saya sibuk berpetualang iga bakar.
iga bakar pertama saya coba di warung iga bakar di gejayan. saya makan sendiri. uwh. sedap sih. rasanya nyamleng banget. saya pesan iga bakar blackpepper. rasanya sedap, dengan butiran blackpepper yang digerus kasar. rasa blackpeppernya cukup nendang.
iga bakar kedua saya cicip di cow mad di belakang kanisius. saya makan dengan arun. tapi saya terlihat cacat disini. dua lemon tea saya tenggak habis dari dua gelas besar! duh, aib nih di depan arun. saya makan iga bakar pedas. awalnya tidak pedas. warna merah yang melumuri iga nyatanya membikin saya dan arun sepakat, “enggak pedes ya, ini cuma gertak merah sambal saja …” tapi kesepakatan ini harus buru-buru kami koreksi. “duh, pedes … pedesnya tertinggal!” hahaha …
iga bakar ketiga saya coba di iga bakar sapi bali di jalan kaliurang. saya makan rame-rame dengan manuk-manuk de britto itu. arun, bram, paimun dan paimun kecil. iga bakar ini pedas, kalau pesan iga bakar kecap itu manis. pilihannya jatuh pada iga bakar. rasanya cukup enak dengan tingkat kepedasan sedang. rasanya malah agak manis dan tidak ada acara kepedesan seperti di cow mad. kali ini saya dan arun kembali bersepakat, “sama-sama pedas, tapi nenadang cow mad ya dibanding sapi bali ini …”
dan juaranya adalah … cow mad!
sedap ah.









