ada yang berbeda dari bram belakangan. doi rajin mbojo.
lagat ini sudah saya cium sejak saya menelponnya beberapa waktu silam. ditengah napas yang diburu, bram menjawab sedang berada di rumah pacarnya. ya olo … meneketehe kalau elo sudah punya pacar, bram!
tuturan ini dari arun, “mbojo ki minimal tekan jam 2 … lha janjian karo aku kok jebule lagi nelpon jam 2 esuk …” hahahahahaha …
tapi ini sungguh. jam 7 malam jam tangannya sudah gelisah. janji temu dengan paimun di rumah bram, eh, paimun tak kunjung datang. mulutnya iya-iya, tapi saya tahu hatinya gelisah, lebih gelisah ketimbang jam tangannya.
usai makan iga, bram pamit pulang awal. tidak pulang, tapi langsung mbojo. aih … sementara paimun, arun, paimun cilik dan saya main biliar.
tapi beberapa teman tidak tahu betapa mbojo juga bisa meminggirkan acara temu janji dengan teman-teman. telepon masuk ke ponsel paimun, menanyakan bram. bukan perempuan, tapi laki-laki yang sedang menggairahkan napsu meriung dan memotret. iya, anak-anak APC yang sudah ada di depan rumah bram lantaran janjian mau ke kaliurang bareng. sayangnya, mereka kesulitan menelpon bram. jadilah, menelpon paimun.
“lha tunggu wae nek gelem nunggu. paling bocahe baline minimal jam 2 esuk….” kata paimun sembari tergelak. olala … padahal mereka sudah janjian bakal naik ke atas bersama-sama.
jangankan mereka. bahkan arun dan paimun mencoba berkirim pesan pendek dan telepon pun tidak dijawab maupun diangkat. aih, aih, agaknya sedang in the hoy. dan bram menjadi sentral pembicaraan yang paling hangat panas malam itu.
“semalam pulang jam berapa, bram?” tanya saya. arun ada di depan saya, menjemput untuk sama-sama ke rumah bram untuk ambil motor.
“semalam aku pulang jam 11, fe…” jawabnya. arun tergelak, dengan sedikit pisuhan. “opo, lagi telepon aku ngajak nang kaliurang jam 2 kok …” protesnya.
iya, iya. sepertinya bram pulang jam 11, cuma nunut pipis, trus mbojo meneh.









