entah, saya selalu enggan mencoba angkringan lik man di lor stasiun tugu.
disana banyak orang berbincang. meriung. membicarakan banyak hal. dari yang penting hingga tidak penting. iya, di angkringan lik man yang selalu memadat sejak sore hari. tapi, ribuan kali lewat di depannya, saya tetap saja enggan mencoba.
angkringan ini dikelola oleh lik man atau siswo raharjo. dia adalah putra Mbah Pairo, penjual angkringan pertama di kota ini. entah, bagaimana caranya warung ini menggaet pengunjung dari beragam lapisan. bisa jadi, karena kesederhanaannya. dan sudah pasti pula, karena tak menguras kantong. yang jelas, angkringan ini cukup legendaris lantaran pedagangnya adalah generasi awal pedagang angkringan di jogja yang asal muasalnya dari dari Klaten.
merunut sejarahnya, Mbah Pairo sudah mulai berjualan di jogja sejak tahun 1950-an. nama aslinya sih bukan angkringan, tapi ‘ting ting hik’. warung ini diwariskan kepada lik man tahun 1969. konon, sejak itulah angkringan mulai menjamur di kota pelajar ini.
kalau ke warung ini, andalannya adalah kopi joss. yaitu, kopi yang disajikan panas dengan diberi arang. konon, kelebihan kopi ini adalah kadar kafeinnya yang menciut karena dinetralisir oleh arang.
tapi sungguh, saya masih enggan ke warung kopi ini. tidak tahu, kenapa. mungkin belum menemukan teman berbincang yang cihuy.









