Archive for kopi

enggan mencoba

Posted in mangan-mangan with tags , on April 23, 2008 by femi adi soempeno

entah, saya selalu enggan mencoba angkringan lik man di lor stasiun tugu.

disana banyak orang berbincang. meriung. membicarakan banyak hal. dari yang penting hingga tidak penting. iya, di angkringan lik man yang selalu memadat sejak sore hari. tapi, ribuan kali lewat di depannya, saya tetap saja enggan mencoba.

angkringan ini dikelola oleh lik man atau siswo raharjo. dia adalah putra Mbah Pairo, penjual angkringan pertama di kota ini. entah, bagaimana caranya warung ini menggaet pengunjung dari beragam lapisan. bisa jadi, karena kesederhanaannya. dan sudah pasti pula, karena tak menguras kantong. yang jelas, angkringan ini cukup legendaris lantaran pedagangnya adalah generasi awal pedagang angkringan di jogja yang asal muasalnya dari dari Klaten.

merunut sejarahnya, Mbah Pairo sudah mulai berjualan di jogja sejak tahun 1950-an. nama aslinya sih bukan angkringan, tapi ‘ting ting hik’. warung ini diwariskan kepada lik man tahun 1969. konon, sejak itulah angkringan mulai menjamur di kota pelajar ini.

kalau ke warung ini, andalannya adalah kopi joss. yaitu, kopi yang disajikan panas dengan diberi arang. konon, kelebihan kopi ini adalah kadar kafeinnya yang menciut karena dinetralisir oleh arang.

tapi sungguh, saya masih enggan ke warung kopi ini. tidak tahu, kenapa. mungkin belum menemukan teman berbincang yang cihuy.

 

warung kopi blandongan

Posted in mangan-mangan with tags , , on March 21, 2008 by femi adi soempeno

saya masih ingat persis bagaimana rasanya menyambangi warung kopi ini untuk pertama kalinya.

rasanya: aneh!

saya masuk bersama paimun. disitu, hamparan anak muda berjajar rapi. meriung. membincangkan pelat kendaraan yang bengkok hingga hati yang tengah tercabik-cabik. merokok. sesekali, menyeruput kopi.

ini warung kopi tanpa sekat. bukan starbucks. tapi blandongan. tidak menumpangkan kaki pada wadah tangan di kursi. tetapi duduk. mau selonjor, bersila, jegang, njengking, glundungan … boleh! tak penting untuk bawa laptop biar terkesan keren. datang saja pakai sandal jepit, kaos belel dan jeans yang sudah menipis. percuma menebalkan bulu mata dengan maskara, wong disini suasananya remang-remang.

semalam saya pesan segelas kopi gede tanpa gula. pahit sih. tapi, saya suka. rasa kopinya sungguh terasa keasliannya. kental. ada ampas yang tertinggal di dinding gelas saat saya menenggak isinya. kental. hitam. konon, warung kopi ini menyediakan kopi istimewa yang diolah langsung dari biji yang diperoleh siempunya warung.

ada yang mau pesen kotang? eits, ini bukan pasangannya kancut. kotang disini artinya kopi tanggung. maksutnya, segelas kopi dengan ukuran gelas yang tanggung.

jangan ngeres ah, cukup gelasnya saja yang ngeres dengan ampas kopi.