jogja.
rasanya adem jika menjejak jogja setiap ujung minggu tiba. jumat pagi. sabtu pagi. keletihan perjalanan dengan kereta ekonomi dari jakarta, selalu tak berbekas. ada keriaan tersendiri saat sandal jepit atau sepatu menapak di stasiun lempuyangan. “jogja meneh …” atau, “akhirnnya … jogja!”
memang. gumam itu tak pernah saya lewatkan. melihat kesigapan bakul salak di stasiun lempuyangan atau keramahan tukang becak, membikin saya selalu terenyuh. ini lho yang jogja banget. dan jogja selalu sama. selalu ramah. selalu tersenyum. selalu mengangguk. selalu kental dengan aksen jawanya.
saya selalu jatuh cinta pada jogja. pada gerojokan air di setiap musim hujan tiba. juga pada gerahnya bola raksasa yang menggantang jogja.
dan saya bersyukur, jakarta tak membuat saya lupa pada jogja.









