Archive for PJKA

tiket kereta dimahalin calo

Posted in konco-konco, ngrasani jogja with tags , , , on June 30, 2008 by femi adi soempeno

kalau beli tiket dan sudah pasti kehabisan, sebaiknya datang ke stasiun dengan kendaraan biasa saja. motor, misalnya.

saya biasa ngere. apapun bisa lah. mau ke jakarta tak pakai tiket, juga sudah biasa. pakai tiket tanpa tempat duduk juga biasa. apalagi tidur di koridor, bukan hal yang baru. yang belum pernah saya lakukan adalah ke stasiun dengan naik mobil, dan sudah pasti kehabisan tiket.

tahu saya keluar dri pintu BMW-nya paimun, calo sudah menghadang di depan stasiun lempuyangan jogja. tiket dibanderol Rp 75 ribu. sinting. saat menolak, teriakannya –sekali lagi, teriakannya– yang membikin saya sebal: “lha tunggangane wae mobil, BMW, mosok ora kuat tuku tiket 75,” katanya, dengan berteriak ke teman-temannya. maksutnya: lha naiknya saja mobil, BMW, masa enggak mampu beli tiket seharga Rp 75 ribu.

ah, yang bener saja.

itu mah namanya kebangetan. tapi, saya juga tak bisa menjelaskan bahwa itu adalah mobil paimun. bukan mobil saya. dan saya juga tak bisa menjelaskan bahwa saya pulang saban minggu, dan sudah 4 tahun begini.

sontoloyo.

tetap saja, saya beli di loket dengan cap tebal: tiket berdiri.

dingin

Posted in tilik bapak-ibu with tags , , , , on May 24, 2008 by femi adi soempeno

semakin ke jogja, semakin dingin.

itu yang saya rasakan semalam, saat berkereta dari jakarta ke jogja. agaknya musim kemarau sungguh-sungguh sudah tiba! saya menggiggil. angin ini berbeda dengan angin dua minggu silam saat saya pulang ke jogja. angin ini sungguh dingin.

tidur saya jadi tidak nyenyak. saya sibuk merapatkan tubuh saya, membuat badan menjadi lebih hangat, dan kalau bisa lebih panas. tapi apa yang bisa dilakukan selain sedakep?

“sakmenika mlebet mangsa ketiga to mbak …” kata tukang becak yang mengantar saya pulang. iya, iya. ini sudah masuk mangsa ketiga. mangsa-nya jogja atis. dingin.

stasiun tugu

Posted in ngrasani jogja with tags , , on April 28, 2008 by femi adi soempeno

stasiun tugu hanya sepelemparan batu dari rumah saya.

dan saya selalu merasa beruntung punya simbah kakung masinis. itu yang membikin keluarga kami berumah di ‘kota’ jogja. mbah, maturnuwun. dulu, hal yang paling menggembirakan adalah menjemput keluarga dari jakarta.

konon, stasiun ini sudah menjadi area pemberhentian kereta api sejak 2 mei 1887. tua ya. tapi, ternyata masih tua stasiun lempuyangan. stasiun kecil ini sudah beroperasi 15 tahun sebelum stasiun tugu. dulunya, stasiun tugu hanya digunakan untuk transit kereta pengangkut hasil bumi dari daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. hanya saja sejak 1 Febnruari 1905, stasiun tugu sudah mulai digunakan untuk transit kereta penumpang. dan jalur ke luar kota pertama sudah mulai dibangun pada tahun 1899. yaitu, dari jogja ke surakarta.

jarang sekali masuk stasiun dari pintu depan. yang selalu saya lakukan, ya lewat pintu belakang. bukannya mau ngirit peron. hanya saja, rumah saya ada di belakang stasiun tugu ini. area belakang stasiun dulunya adalah area yang dikangkangi waria-waria. usai pembersihan sekitar tahun 90-an, bagian belakang stasiun bersih dan bebas waria ngeceng.

parkiran kereta ada di bagian belakang, persis saat saya menjejak stasiun pertama dari pintu belakang. kereta-kereta dimandikan di bagian parkiran itu. kalau mau berkereta bisnis atau eksekutif, tinggal bablas menuju ke arah timur saja.

arsitektur stasiun tugu sangat kental dengan nuansa belanda. bangunan tinggi besar, dengan tiang-tiang besi yang kokoh.

eh, kereta saya sudah datang. itu, kereta gajayana yang malam ini akan mengangkut saya ke jakarta.