Archive for rumah sakit

harus fisioterapi

Posted in ngrasani jogja with tags , , , on August 2, 2008 by femi adi soempeno

tangan saya masih sakit sejak ditabrak kendaraan april lalu. shoot.

makanya, saya menyediakan waktu untuk bertandang ke rumah sakit dan menjumpai dokter syaraf. tujuannya, ya biar sembuh dong ya.

nyatanya, hanya di-mek saja. disentuh, gitu. kemudian si dokter urik-urik surat, merekomendasikan agar saya fisioterapi selama tiga hari berturut-turut. wah, saya tahu, saya ngeri dengan yang begini-begini.

tapi saya lebih tahu, saya harus sembuh. satria, teman berkereta, mengalami hal serupa dan tidak juga sembuh. shoot. “kadang masih nyeri,” katanya.

waduh. padahal ini aset. untuk mengangkat galon air. untuk membuka selai. untuk membuka saus tomad untuk pasta.

ayah, ibu, bagaimana ini.

RSCC

Posted in ngrasani jogja with tags , , on May 2, 2008 by femi adi soempeno

kyle menuliskan nama rumah sakit yang asing bagi telinga saya: RSCC.

rumah sakit condong catur. aih. rumah sakit ini rupanya baru. darinya saya mendengar nama ini. dan ia begitu bangganya bercerita soal kenyamanannya berjejalin dengan dokter paulus di rumah sakit ini. uhm.

dan pagi ini saya digeretnya. menuju RSCC kebanggaannya.

letaknya ada di belakang rumah sakit internasional di condong catur. mblusuk. harus sedikit ‘berusaha’ untuk menuju rumah sakit ini. letaknya sungguh-sungguh ada di tengah pemukiman penduduk. usai memarkirkan kendaraannya, kyle masih menggeret saya masuk.

bersih. hijau. baru. mungil. sepi.

tapi, lebih dari itu, saya tahu kenapa kyle menyukai rumah sakit yang mblusuk ini. yaitu, karena dokter paulus bisa berbicara berbahasa inggris dan menjelaskan beragam hal dengan bahasa ibunya.

capek antri

Posted in ngrasani jogja with tags , , on April 26, 2008 by femi adi soempeno

baru kali ini saya sungguh-sungguh capek antri.

tangan kanan saya sakit usai jatuh ditabrak motor beberapa hari lalu. saya memutuskan untuk rontgen di panti rapih. hmh. dan, temu janji dibikin dengan dokter bedah tulang di panti rapih. dadakan.

saya beruntung, kendati dokter bambang membatasi pasiennya hingga 30 orang, tapi saya masih diterima sebagai pasien nomer 32.

jam 9.30 saya mulai duduk di bagian ruang tunggu. antri. menunggu.

10.30. lewat. 11.30. lewat. 12.30. lewat. 13.05. saya baru masuk. ah. hanya 15 menit, saya kemudian dilempar ke radiologi untuk rontgen. ah.

“menunggu 7 pasien, kira-kira satu jam, bagaimana?” tanya petugas radiologi. gosh. tidak apa-apa. dan saya menunggu untuk satu jam kemudian.

tangan saya dipotret untuk sekitar 5 menit. dan masih harus menunggu sekitar 30 menit untuk hasil rontgen.

belum selesai sampai disini, harus menyambangi dokter bambang di ruang bedah tulang. sesudah dinyatakan, “tidak retak, baik-baik saja …” maka saya menuju kasir untuk membayar, dan menunggu 10 menit untuk dibikinkan kuitansi. sesudahnya, membayar obat dan menunggu 45 menit untuk mendapatkan pil.

saya capek antri di rumah sakit panti rapih. sungguh.