Archive for rumah

patah kunci

Posted in tilik bapak-ibu with tags , , , on August 3, 2008 by femi adi soempeno

dingin kian menggiggit saat saya tahu kunci saya patah di dalam. ah. sialan.

saya tak bisa masuk.

tapi masih ada kunci di pintu samping. hanya saja, bagian dalam untuk masuk ke rumah inti tetap saja digerendel dari dalam. weleh. saya sungguh tak bisa masuk.

saya sudah mencoba mencelupkan tangan saya untuk membuka gerendel, hanya saja tak bisa mencapai ke anak grendel yang kedua. jadinya, ya tetap saja tidak bisa dibuka.

mau tak mau, mencari tetangga yang memiliki tangan kecil. jadilah saya minta tolong pada pak RT yang masih meriung di warung bu koyo.

dan bisa dibuka! aah … terima kasih. saya bisa tidur dengan tenang di kasur hangat di dalam kamar. maturnuwun sanget.

tinggal di rumah

Posted in konco-konco, tilik bapak-ibu with tags , , on July 20, 2008 by femi adi soempeno

saya menikmati siang di rumah.

minggu siang di rumah. ah, jarang sekali. saya memasak. saya membereskan kebun. saya mendengarkan musik. saya duduk tenang di meja belajar. hasilnya: adem.

beberapa menit saya habiskan untuk membikin steak sirloin. semalaman saya basuh dengan bumbu pelumur. hasilnya, ya dengan sedap saya nikmati sendirian. sementara arun, yang arun datang untuk mengambil sepeda, sudah saya jejali dengan burger dari holland.

saya tahu, adem sekali di rumah.

andai minggu tak lekas habis, pasti saya akan lebih lama tinggal. sembari menata file di komputer. sembari mengenang ayah dan ibu. juga, merindui esti.

sampah yang banyak

Posted in tilik bapak-ibu with tags , on July 20, 2008 by femi adi soempeno

saya selalu heran dengan saya sendiri. saya suka nyampah.

yacks.

saban mau kembali ke jakarta, kok ya sampah itu minimal 3 kresek besar. sampah makanan dan kertas. asalnya dari tong sampah di dapur dan ruang belajar. ada saja deh isi plastik itu.

mulai dari bungkus cokelat. gelas yogurt. cuilan kertas. potongan bapcoy. kulit wortel. gagang bayam. ah, banyak.

kalau dua malam saja sampah segini banyak. bagaimana jika saya tinggal. pasti lebih banyak. dan pasti saya rajin membuangnya di bak sampah di belakang stasiun.

berkebun dan tergunting

Posted in tilik bapak-ibu with tags , , on July 20, 2008 by femi adi soempeno

tanaman di depan rumah sudah gondrong. its time to cut!

sedapnya berkebun tengah hari. tidak panas, soalnya masih tertutup area teras yang adem. hasilnya, ya semakin bersemangat mbabati tetumbuhan yang sudah liar menumbuh.

sebenernya hanya tetean saja. seperti biasa, saya bentuk mirip korek api. pentolan di bagian atas, dan agak meramping di bagian bawah.

tiba tiba saja … kress … jempol saya teriris. owh.

saya buru-buru membasuh dengan air, dan menyesapnya untuk menghentikan pendarahan. perih. sakit. duh.

tapi tinggal sedikit lagi. ya tetap saja saya teruskan mencukur sampai rapi.

dan, memang, tetap saja perih.

film, dan seharian di rumah

Posted in tilik bapak-ibu with tags , , on June 13, 2008 by femi adi soempeno

hari ini malas sekali mau keluar.

jadinya, seharian hanya menonton teve saja. setelah reparasi dvd player diambil, jadilah marathon menonton film. kartun. drama. sedapnya.

film memang menumpuk di rumah. dibeli tapi belum ditonton. maklum, belakangan lebih suka keluyuran ketimbang tinggal di rumah. tetapi agaknya ngomah harus mulai dilakukan lagi.

teman menonton teve adalah chicken wings. tapi kali ini kok oily banget. sudah mencoba dientas dengan kertas cokelat penyerap minyak, tetap saja minyaknya tak bisa habis. humh. *tapi namanya digoreng, tentu saja berminyak. kalau di rebus, lain perkara.*

ada yang maun nonton film dengan saya?