sudah lama sekali saya tak menyambangi warung soto ini.
saya kangen racikan sartono, si pemilik warung soto ini. letaknya persis di sebelah pom bensin monjali. ada pikulan di depan. nah, disana itu warungnya. plangnya namanya ‘omah kudus’. halah, seperti orang-orang kudus saja.
ini bukan soto kerbau. ini soto kudus dengan daging ayam. mangkoknya mungil. saat pertama mencicipi soto kudus, muncul pertanyaan rakus di benak, “opo wareg?” aih. nyatane wareg!
setiap pesanan datang, urutan tangan Sartono adalah menjumput nasi, lalu membubuhinya dengan toge, suwiran ayam, seledri, dan daun bawang. setlahnya, ia mengguyuri dengan kuah soto, ia menaburkan bawang putih goreng sebagai penyedap.
kuahnya segar, gurih mantap, dan tidak terlalu berat. disini, jangan lupa pakai kecap. warna dan rasa kecapnya khas. hitamnya tidak mengeruhkan kuah, dan rasanya juga tidak terlalu manis. konon, kecap di kedai ini ia datangkan dari pabrikan lokal di Kudus. pasangan pas selain kecap adalah jeruk nipis yang diperas ke mangkuk, perkedel, dan kerupuk rambak.
saya sempat ketemu sartono. “saya sakit, asam urat …” katanya sembari menyalami, sambil jalan terpincang. duh. semoga lekas sembuh. saya mau racikan soto kudus dari tangan njenengan.








