jogja, dan rasa sebal itu

Posted in ngrasani jogja with tags , , on August 31, 2008 by femi adi soempeno

saban kali mau blogging di halaman ini, sebel banget!

entah kenapa, halaman ini sering sekali sulit sekali untuk dibuka. harus menunggu beberapa saat. setidaknya setengah menit. tidak seperti halaman saya yang lain yang dengan mudahnya.

kadang perlu merefresh. atau, malah perlu untuk membuka halaman jogjakarta ini secara khusus, kemudian baru membuka halaman write post.

ah, menyebalkan.

stama, ’99

Posted in konco-konco with tags , , , on August 29, 2008 by femi adi soempeno

saya harus berterima kasih pada bekas sekolah saya dulu, santa maria.

yaps. sekolah itu yang mengantarkan saya pada keriangan kecil sebelum mengancik pada sekolah yang lebih serius: universitas. di sekolah ini, saya bisa menulis dengan leluasa.

memang, di sekolah sebelumnya, van lith, saya tak selalu bisa menulis dengan leluasa. tidak ada kesempatan untuk mencuatkan segala emosi dan gejolak anak usia belasan. aih, tapi bagaimanapun saya tetap mensyukuri proses yang saya lalui di sekolah berasrama ini. *terima kasih*

dan santa maria, sekolah homogen, perempuan semua! oowh … saya tak pernah membayangkan bakal mengenakan rok panjang diantara rok-rok supermini dan gaya yang supercentil. duh, bukan femi banget. 🙂 nyatanya, kelas 2D dan kelas 3-bahasa meninggalkan jejak kenangan yang menggudang: keriangan, kegembiraan, rasa tanggung jawab, kegilaan, pertemanan, persaudaraan … banyak!

terima kasih.

ada undangan datang barusaja. milis santa maria untuk angkatan saya, ’99. ah, rupanya jejalin ini mulai dibangun kembali. ah, sebuah awal yang baik.

ngengkol sepeda lempit

Posted in konco-konco with tags , , on August 25, 2008 by femi adi soempeno

saya tidak akan pulang untuk seminggu ke depan, bahkan dua minggu ke depan, atau mungkin lebih.

itu sebabnya, dengan rela saya sewakan pinjamkan sepeda saya pada yang ingin mencoba kedahsyatan sepeda lempit. kali ini giliran prast.

weleh. saya harus ngengkol dari rumah di bumijo saat siang bolong, ke galangpress. speed 4, atau speed 5, lumayanlah terkayuh hingga ke baciro. padahal ada dua tas yang ada dipunggung saya. uwh.

iya, iya, saya tetap rela kok. 🙂

saya juga harus mengajari bagaimana melempit sepeda. juga, membukanya. salah-salah, bisa melipet tapi nggak bisa membuka. kojur, to.

nah. nitip ya. harap dijaga, ada begitu banyak kenangan di sana.

mbok wignyo

Posted in konco-konco, mangan-mangan with tags , , , , , , on August 25, 2008 by femi adi soempeno

prast memamerkan warung kebanggaannya: mbok wig, dengan empalnya yang dahsyat. ah, monggo-monggo, dicoba bersama.  

dan kami bertiga, dengan koko, menyambangi warung di kampung demangan itu. nasi putih dengan sayur sop dan cacahan empal. sedap!

seorang simbok tua yang meladeninya. nah, dia itu mbok wig. aksen jawanya sangat kental, dan ia tampak ramah meladeni satu per satu pengunjungnya. ada lagi satu orang laki-laki. mm … mungkin suaminya. atau, anaknya? entah.

dan nasi putih yang dicidukkan ke piring begitu banyaknya. hah. porsi setengah saja buanyak. apalagi satu porsi. pilihan sayurnya beragam. tapi konon menu yang paling dahsyat ya hanya sayur sop ini. dan cacahan empalnya. “biasanya enggak dicacah begini …” kata prast.

nyamleng tenan.

dibubuhi sambal dan krupuk udang yang berisi tiga sebungkus, sop dan empal ini terasa nendang. aih, iya, serasa ditendang mbok wig yang berkebaya lawas itu.

dua porsi nasi-sop-empal plus krupuk udang, hanya Rp 15 ribu saja.

maturnuwun prast.

obrolan hangat dengan sahabat

Posted in konco-konco with tags , , , , , , on August 24, 2008 by femi adi soempeno

namanya yani. irene maryani. dia satu-satunya sahabat-bat-bat-bat-bat perempuan saya. saya menemukannya saat sekolah menengah di santa maria.

entah, saya tak pernah bisa menyembunyikan apapun dari ibu satu anak ini. tentang patah hati, jatuh cinta, rasa sebal, keluarga, cetak biru masa depan, mimpi, rekam jejak … saya tahu, saya berjodoh dengannya. kami selalu menyediakan waktu untuk berbincang. ah, terimakasih buat joko dan paolo yang membiarkan saya mencuri sebentar waktu kalian untuk saling bercerita.

tidak terasa, usia pertemanan kami sudah satu dasawarsa. 1998-2008. dan kami masih begini. saling bertukar cerita.

seperti tadi. kami menggelar makanan (yani membeli papa rons pizza) dan berbincang. ah, ini sungguh hangat. sampai jatuh terkantuk. sampai diluar kian menggelap.

dan chocho mengantarkan saya hingga ke gerbang garasi.

reuni kecil

Posted in konco-konco with tags , , on August 18, 2008 by femi adi soempeno

kami bertiga duduk menghadapi gelas masing-masing.

saya dan yani dengan soda gembira kami. dan tje dengan cappucino hangatnya. aih. dan reriungan ini menghangat bersama kepulan rokok yang disedot yani dan tje. hangat.

kami membincangkan si anu dan si anu yang lain. sedikit menggosip. tentang si anu yang pacaran dengan si anu. tentang si anu yang kakaknya sedang anu. tentang si anu yang sedang main hati dengan si anu. seru. rasanya seperti waktu masih kuliah dulu. obrolan memanas. penuh gosip dan gelak tawa.

formasinya memang seperti ini, dari dulu. kadang dengan beberapa teman lain. meriuhkan canda.

“malam-malam, aku naik motor. njuk dibajul temon … wah, aku wes GR, berarti aku bagus. eh, jebule pas aku cerito karo kancaku, lonthe-lonthe nang kono ki ncen tumpakane motor dan seneng mbajuli ngono …” kata tje.

hahahaha …

batal tirakatan

Posted in konco-konco, ngrasani jogja with tags , , , on August 16, 2008 by femi adi soempeno

ah, saya batal tirakatan.

awalnya, saya sudah bikin janji dengan mas eben dan mbak lina mau tirakatan bareng. “jam 10-an ya!” katanya.

inilah ritual yang tak pernah hilang: tirakatan saban malam 17 agustus. saatnya bertemu dengan tetangga kanan dan kiri. membaur, menjadikan ‘satu’ sebagai warga yang tinggal di area yang sama.

tapi saya batal tirakatan. persis lima belas menit sebelum jam kencan untuk tirakatan bersama, rupanya mas eben dan mbal lina sudah duluan berangkat. oops.

jadilah arun dan saya hanya duduk-duduk di rumah, menghabiskan botol-botol bir yang tersisa. sampai … lima botol!

ah, jangan-jangan saya memang tidak niat tirakatan! 🙂